Analisa Hidrologi - Kota Banjarmasin (NUFReP)

Umum

Pekerjaan ini merupakan bagian dari proyek National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), program kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Bank Dunia dalam rangka meningkatkan ketahanan perkotaan terhadap banjir. Salah satu komponen strategis adalah pembangunan Wilayah Pengendalian Genangan (WPG) di kawasan Sungai Sutoyo S, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kawasan WPG Sungai Sutoyo S mencakup dua sub-DAS utama: Sub-DAS Pelambuan (116,35 Ha) dan Sub-DAS Jafri Zamzam (342,49 Ha), dengan total luas catchment 458,84 Ha. Kawasan ini secara rutin terdampak banjir yang merugikan masyarakat, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi. Analisis hidrologi yang komprehensif menjadi pondasi perencanaan sistem drainase dan pengendalian banjir, mencakup analisis frekuensi hujan, penyusunan kurva IDF, delineasi catchment, dan pemodelan hidrograf desain menggunakan SWMM.

Metodologi

Analisis hidrologi dilaksanakan mengikuti alur kerja terstruktur enam tahap, dari pengumpulan data hingga hidrograf desain.

Gambar 1. Alur kerja analisis hidrologi enam tahap

Secara keseluruhan, analisa hidrologi dilakukan dengan melalui enam tahapan. Mulai dari pengumpulan data, koreksi bias GPM, hingga hidrograf desain. Keenam tahapan tersebut secara rinci adalah sebagai berikut:

Tahap A — Pengumpulan Data: Data hujan GPM IMERG V07, ground station BMKG (2 stasiun), DEM UAV 2026, dan peta tutupan lahan ESRI Land Cover

Tahap B — Koreksi Bias GPM: Evaluasi 4 metode; dipilih Year-Specific Scaling (M4) berdasarkan metrik validasi terbaik

Tahap C — Analisis Frekuensi & IDF: Annual Maximum Series (AMS), uji statistik SNI 7746:2012, distribusi Log-Pearson III, dan kurva IDF dengan pola jam-jaman Banjarmasin

Tahap D — Delineasi Catchment: Pengolahan DEM UAV 2026 untuk delineasi 12 sub-DAS.

Tahap E — Pemodelan SWMM: Model limpasan dengan SCS Curve Number dan IDF sebagai input hujan

Tahap F — Hidrograf Desain: Debit puncak Q2, Q5, Q10, Q20 per sub-DAS sebagai input pemodelan hidraulika HEC-RAS

Perangkat Lunak

  • R (tidyverse, readxl, sf, openxlsx, QMAP) — analisis statistik dan koreksi bias
  • QGIS 3.40.4 + WhiteboxTools — pengolahan DEM dan delineasi catchment
  • EPA SWMM — pemodelan limpasan permukaan

Pengumpulan Data

Inventarisasi Stasiun Hujan

Terdapat 15 stasiun hujan di sekitar area WPG. Duabelas diantaranya bersumber dari WS Kalimantan III, sedangkan tiga stasiun hujan bersumber dari BMKG. Gambar matriks ketersediaan tiap stasiun hujan serta jumlah data valid ditampilkan pada tabel berikut.

Gambar 2. Matriks Ketersediaan Data Hujan Stasiun di Sekitar WPG Banjarmasin
Gambar 3. Jumlah Data Valid di Tiap Stasiun Hujan

Berdasarkan SNI 2415:2016 (minimal 20 tahun data), hanya 7 stasiun memenuhi syarat. Dari 7 stasiun tersebut, 2 lokasi terdekat adalah Stasiun BMKG Syamsuddin Noor (33,7 km) dan BMKG Kalimantan Selatan (25 km).

Tabel 1 Inventarisasi Stasiun Hujan di Sekitar WPG Sungai Sutoyo S Banjarmasin
NoStasiunWilayahSumberJarak (Km)MulaiAkhirnCH MaxStatus SNI
1Padang PanjangKab. BanjarBWS Kal III/PSDA42202220254135<10 th (Tidak Layak)
2Ati’imKab. BanjarBWS Kal III/PSDA63.2202220253128<10 th (Tidak Layak)
3BanjarmasinKota BanjarmasinBWS Kal III/PSDA2.8202220262135.8<10 th (Tidak Layak)
4Gudang TengahKab. BanjarBWS Kal III/PSDA15.6202020253307.5<10 th (Tidak Layak)
5Aluh-AluhKab. BanjarBWS Kal III/PSDA16.420222025398.8<10 th (Tidak Layak)
6AstambulKab. BanjarBWS Kal III/PSDA28.920222025174.8<10 th (Tidak Layak)
7MengkaukKab. BanjarBWS Kal III/PSDA60.8202220253102.2<10 th (Tidak Layak)
8Batu TanggaHulu Sungai TengahBWS Kal III/PSDA137199520252815320-29 th (Cukup)
9IntanganHulu Sungai TengahBWS Kal III/PSDA123.7199520252618820-29 th (Cukup)
10KambatHulu Sungai TengahBWS Kal III/PSDA122.3199520252336820-29 th (Cukup)
11MangunangHulu Sungai TengahBWS Kal III/PSDA116.6199520252614220-29 th (Cukup)
12Mo’uiHulu Sungai TengahBWS Kal III/PSDA110.9199520252218020-29 th (Cukup)
13Kal-Sel (BMKG)Kab. BanjarbaruBMKG251998202527255.320-29 th (Cukup)
14Syamsuddin NoorKota BanjarbaruBMKG33.7199820252724920-29 th (Cukup)
15Surgi MuftiKota BanjarmasinBMKG3.51996201419168<20 th (Kurang)

Keterangan: Stasiun dengan status ‘Tidak Layak’ memiliki data kurang dari 10 tahun sehingga tidak memenuhi persyaratan SNI 2415:2016. Stasiun ‘Cukup’ memiliki 20–29 tahun data

Plotting Jarak Tapak Proyek Terhadap Lokasi Stasiun Hujan

Selain terhadap kelengkapan data hujan, jarak stasiun hujan juga sangat berpengaruh terhadap analisa yang akan digunakan. Semakin dekat maka akan semakin baik. Hasil plotting bisa dilihat sebagai berikut

Gambar 4. Peta Lokasi Stasiun Hujan dan Area WPG Soetoyo

Dari 15 stasiun tersebut hanya ada 2 Lokasi yang paling lengkap dan paling dekat, yaitu Stasiun BMKG Syamsuddin Noor dan Stasiun BMKG Kalimantan Selatan. Meskipun begitu, karena jarak Lokasi stasiun hujan terhadap area pekerjaan masih sekitar 25 – 33 Km maka diperlukan data satelit untuk bisa menghitung curah hujan spesifik yang berada di area pekerjaan.

Tambahan data Satelit (GPM)

Data GPM IMERG V07 dipilih karena menggunakan radar presipitasi aktif (DPR, dual frequency precipitation radar) sebagai kalibrator, menghasilkan akurasi deteksi kejadian hujan harian yang lebih baik di wilayah tropis dibandingkan produk berbasis inframerah seperti CHIRPS atau PERSIANN. Validasi independen di Kalimantan dan wilayah Indonesia lainnya menunjukkan performa konsisten pada skala harian dengan nilai RMSE dan CSI yang kompetitif. Selain itu, GPM IMERG telah diadopsi secara resmi oleh BNPB dalam sistem inaRISK sebagai referensi klimatologis nasional. Overlay grid GPM dengan lokasi pekerjaan dan stasiun BMKG sebagai referensi diperlihatkan sebagai berikut.

Gambar 5. Overlay Lokasi WPG dengan Pos Hujan dan Grid GPM

Dari hasil plotting time series data tahunan dan bulanan, data hujan satelit memiliki trend yang serupa. Namun jika dibandingkan HHMT, maka data satelit hampir semua nya underestimate. Terutama di tahun 2021 Ketika terjadi hujan ekstrim di dua stasiun BMKG. Untuk itu diperlukan koreksi bias.

Gambar 6. Plot Data Bulanan antara Pos Hujan BMKG dan Grid GPM
Gambar 7. Plot Data Bulanan antara Pos Hujan BMKG dan Grid GPM
Gambar 8. Plot Data HHMT antara Pos Hujan BMKG dan Grid GPM

Koreksi Bias

Data satelit GPM IMERG mengandung bias sistematis dibandingkan pengukuran ground station. Koreksi bias difokuskan pada Hujan Harian Maksimum Tahunan (HHMT) — parameter utama analisis frekuensi banjir. Empat metode koreksi (monthly scaling (M1), HHMT direct scaling (M2), quantile mapping (M3), sampai year-specific scalling (M4)) dievaluasi menggunakan data 1998–2025 dan tujuh metriks validasi (PBIAS, RMSE, MAE, R, R2, NSE, dan KGE) dijadikan acuan sebagai filter metode koreksi mana yang paling baik.

Validasi data curah hujan satelit tidak dapat dilakukan dengan satu metrik tunggal karena setiap metrik mengukur dimensi kesalahan yang berbeda. Penggunaan beberapa metrik secara bersamaan memastikan tidak ada aspek kualitas data yang terlewat dari evaluasi. Tujuh metrik yang digunakan dalam proyek ini mencakup empat dimensi utama:

Tabel 2 Empat dimensi evaluasi dan metrik terkait
DimensiMetrikAspek yang Diukur
Bias SistematikPBIASApakah GPM over- atau underestimate secara konsisten?
Magnitudo ErrorRMSE, MAESeberapa besar rata-rata kesalahan absolut antara GPM dan observasi?
Korelasi LinearR, R²Seberapa kuat hubungan linear antara GPM dan observasi?
Efisiensi ModelNSE, KGESeberapa baik GPM dibandingkan baseline (rata-rata observasi)?
Tabel 3 Perbandingan Metrik Validasi Koreksi Bias HHMT — M0 sampai M4
No.MetodeKeteranganPBIAS
(%)
RMSE
(mm)
MAE
(mm)
RNSEKGEKategori
NSE/PBIAS/KGE
1M0 — GPM RawTanpa koreksi — baseline-31.947.43938.7210.3730.139-1.0620.206TM/TM/TM
2M1 — Monthly ScalingCF per bulan dari data BMKG tersedia-27.043.70134.4990.3830.147-0.7500.252TM/TM/M
3M2 — HHMT Direct ScalingCF global HHMT tunggal3.536.46824.1770.3730.139-0.2180.371TM/SB/M
4M3 — Quantile MappingPemetaan distribusi empiris3.539.00126.8430.3500.123-0.3940.347TM/SB/M
5M4 — Year-SpecificFk per tahun (Year-Specific Scaling)3.515.78911.1360.9000.8110.7720.879SB/SB/SB
KETERANGAN KATEGORI (Moriasi et al. 2007 & Gupta et al. 2009):

NSE : >0.75=SB (Sangat Baik) | 0.65–0.75=B (Baik) | 0.50–0.65=M (Memuaskan) | <0.50=TM (Tidak Memuaskan)

PBIAS: <10%=SB | 10–15%=B | 15–25%=M | >25%=TM

KGE: >0.75=SB | 0.50–0.75=B | 0.25–0.50=M | <0.25=TM

▣ M4 = Dipilih karena terbaik dari semua sisi validasi metrik

Perbandingan antara GPM RAW (tanpa koreksi) dengan GPM hasil koreksi bias serta dengan nilai validasi metriknya dapat dilihat dalam gambar berikut.

Gambar 9. Perbandingan antara GPM RAW dengan GPM Hasil koreksi bias

Analisis Frekuensi dan Uji Kesesuaian (goodness-of-fit)

Analisis frekuensi hujan bertujuan untuk memperkirakan besaran hujan rencana dengan kala ulang tertentu (T) berdasarkan seri data historis Hujan Harian Maksimum Tahunan (HHMT). Metode ini berasumsi bahwa data HHMT merupakan sampel acak yang mengikuti salah satu distribusi probabilitas tertentu. Dalam analisis ini digunakan lima distribusi yang umum dipakai dalam hidrologi di Indonesia, sesuai SNI 2415:2016 dan SNI 7746:2012. Pemilihan distribusi yang paling sesuai dilakukan melalui dua uji kesesuaian statistik, sesuai SNI 7746:2012: uji Chi-Kuadrat dan uji Kolmogorov–Smirnov. Distribusi dengan nilai statistik uji terkecil (relatif terhadap nilai kritisnya) pada kedua uji ditetapkan sebagai distribusi terpilih.

Tabel 4 Rekap Uji Kesesuaian di 5 Distribusi Hujan
DistribusiChi² HitungChi² KritisDerajat
Bebas
Uji Chi-SqD_maks (KS)D_kritis (KS)Uji KSLolos
Kedua Uji
Ranking
Log-Pearson III  (TERPILIH)2.7142863.8411DITERIMA0.0843570.257DITERIMALOLOS1
GEV3.0714293.8411DITERIMA0.1095320.257DITERIMALOLOS2
Gumbel4.8571435.9912DITERIMA0.1265840.257DITERIMALOLOS3
Log-Normal4.8571435.9912DITERIMA0.1503180.257DITERIMALOLOS4
Normal11.2857145.9912DITOLAK0.1911360.257DITERIMAGAGAL
Gambar 9. Nilai Uji Kesesuaian - % Terhadap Nilai Kritis
Tabel 5 Hujan Rencana (mm/hari) Berdasarkan Semua Distribusi — Log-Pearson III Terpilih
Kala Ulang
(Tahun)
Periode
Ulang (T)
Normal
(mm)
Log-Normal
(mm)
Gumbel
(mm)
Log-Pearson III
(Terpilih, mm)
GEV
(mm)
T = 2 tahun2114.33110.15108.47105.52107.26
T = 5 tahun5144.31137.75139.96134.58134.70
T = 10 tahun10159.99154.83160.81157.04154.71
T = 20 tahun20172.93170.51180.81181.12175.40
T = 25 tahun25176.70175.37187.15189.32182.29
T = 50 tahun50187.50190.08206.69216.42204.56
T = 100 tahun100197.22204.35226.09246.32228.31
Gambar 10. Kurva Frekuensi Hujan – 5 Distribusi Hujan

Deliniasi Subdas

Delineasi catchment menggunakan DEM hasil survei topografi tahun 2026, diproses dengan program GIS. Resolusi hasil pengukuran topografi jauh lebih tinggi dibandingkan DEMNAS sehingga menghasilkan batas Sub DAS yang lebih akurat. Secara garis besar WPG Sungai Soetoyo ini merupakan bagian dari WPG Kota Banjarmasin dengan total 11 WPG yang tersebar. Lokasi WPG S. Soetoyo sendiri berada di sebelah barat yang berhubungan langsung dengan Sungai Barito. Peta area WPG Banjarmasin secara keseluruhan dan area WPG detail S. Soetoyo ditampilkan pada gambar berikut.

Gambar 11. Area WPG Kota Banjarmasin – Keseluruhan
Gambar 12. Area WPG S. Soetoyo

Permodelan SWMM

Storm Water Management Model (SWMM) digunakan untuk mengkonversi hujan rencana menjadi hidrograf debit di setiap titik keluar sub-DAS. Parameter utama model: • Metode limpasan: SCS Curve Number (CN) — USDA TR-55, 1986 • Input hujan: Kurva IDF dari hasil analisis frekuensi • Karakteristik sub-DAS: Luas, kemiringan, panjang saluran, CN per penggunaan lahan

Penentuan parameter model SWMM (Storm Water Management Model) pada area WPG Banjarmasin didasarkan pada karakteristik fisik lahan dan jenis tanah yang ada di wilayah tersebut. Wilayah Banjarmasin dan sekitarnya merupakan dataran rendah Kalimantan Selatan yang didominasi oleh tanah lempung berliat dengan drainase alami yang buruk, muka air tanah dangkal, serta banyak dijumpai lahan rawa dan gambut yang terkonversi. Kondisi ini secara hidrologis menempatkan jenis tanah di wilayah kajian pada klasifikasi Hydrologic Soil Group (HSG) Tipe C. Seluruh nilai parameter standar yang digunakan merujuk pada Hydrology National Engineering Handbook, Chapter 7 (USDA-NRCS, 2009) dan panduan hidrolika FHWA-SA-96-067 (McCuen et al., 1996).

Tabel 6 Rekapitulasi Nilai Parameter SWMM – Area WPG Soetoyo - Kota Banjarmasin
Parameter SWMMNilai TerpilihKategori / DasarSumber
Hydrologic Soil Group (HSG)CTanah lempung berliat, drainase buruk, dominan di dataran rendah Kalimantan SelatanNRCS TR-55
Curve Number (CN)90Residential – 1/8 ac or less (65% impervious), HSG CNRCS NEH Ch. 7
Manning’s n – Impervious (N-Imperv)0,012Smooth concrete (saluran beton halus)FHWA-SA-96-067
Manning’s n – Pervious (N-Perv)0,024Cement rubble surface (permukaan berbatu/tanah terbuka)FHWA-SA-96-067
Depression Storage – Impervious (Dstore-Imperv)1,27 mmImpervious surfaces (0,05 in = 1,27 mm)NRCS / FHWA
Depression Storage – Pervious (Dstore-Perv)5,24 mmLawns/pasture (0,20 in = 5,08 mm dibulatkan 5,24 mm)NRCS / FHWA

Hidrograf Desain dan Debit puncak per Sub-DAS

Hasil dari running permodelan SWMM dengan input dan parameter yamg telah ditentukan berupa hidrograf debit banjir ditampilkan sebagai berikut

Gambar 13. Hidrograf Debit Pada Masing-masing Subdas (Q2)
Gambar 14. Hidrograf Debit Pada Masing-masing Subdas (Q5)
Tabel 7 Rekapitulasi Debit Puncak per Sub-DAS (m³/s) — SWMM Output
NoKodeNamaQ2Q5Q10Q20Q25Q50Q100
1Asubdas_anak_pelambuan_kiri_11.532.032.412.812.953.403.89
2Bsubdas_anak_pelambuan_kiri_20.540.710.850.991.031.191.36
3Csubdas_anak_pelambuan_kiri_32.062.723.233.763.944.555.21
4Dsubdas_anak_pelambuan_kn_13.484.805.836.927.298.519.85
5Esubdas_anak_pelambuan_kn_21.662.202.613.053.203.694.23
6Fsubdas_jafri_zamzam_ki_12.323.253.974.755.015.876.81
7Gsubdas_jafri_zamzam_ki_22.543.544.305.115.396.297.27
8Hsubdas_jafri_zamzam_ki_33.034.335.386.526.928.219.65
9Isubdas_jafri_zamzam_ki_42.814.045.046.136.517.769.15
10Jsubdas_jafri_zamzam_kn_10.961.321.601.902.002.332.69
11Ksubdas_jafri_zamzam_kn_23.224.455.386.376.707.798.99
12Lsubdas_jafri_zamzam_kn_31.892.603.133.703.894.525.21
Tabel 8 Rekapitulasi Debit Puncak per DAS (m³/s) di Outlet
NoSubdasQ2Q5Q10Q20Q25Q50Q100
1Pelambuan9.2712.4714.9217.5318.4121.3424.54
2Jafri Zamzam16.7623.5328.8134.4836.4242.7749.78

Perbandingan dengan Studi Terdahulu

Pada tahun 2023, Balai Teknik Sungai telah melakukan kajian hidrologi di lokasi yang sama. Perbandingan dengan pekerjaan TSC (Technical Support Consultant) tahun 2026 ini disampaikan dalam tabel matriks berikut

Tabel 9 Perbandingan Studi Hidrologi
ParameterBalai teknik sungai, 2023TSC, 2026Selisih (%)
Total Luas Subdas (Ha)456.2458.840.58%
Data hujanSurgi Mufti (18 Tahun)GPM Koreksi (28 Tahun)-
Hujan Rencana R5 (mm/hari)95.691134.5840.64%
Distribusi HujanMononobe (5 Jam)Mononobe (5 Jam)-
Intensitas Hujan R5 (mm/jam)55.9678.70140.64%
Model HidrologiSWMMSWMM-
Curve Number9090-
Debit Q5 JZZ (m3/dtk)18.2723.5328.77%
Debit Q5 Pelambuan (m3/dtk)9.3812.4732.94%

Pada kajian TSC 2026 ini nilai curah hujan rencana R5 lebih besar dari kajian 2023 (naik ~40%), dikarenakan adanya penambahan data curah hujan ekstrim di tahun 2021 (252.1 mm/hari). Oleh karena itu nilai debit pada masing-masing ruas Sungai juga mengalami peningkatan ~30% dibandingkan pada kajian balai Teknik Sungai 2023 meskipun luasan DAS yang hampir mirip dan digunakan metode distribusi hujan yang sama (mononobe 5 jam).

Irpan Chumaedi
Irpan Chumaedi
Hydrologist Engineer

Konsultan sumber daya air dengan spesialisasi analisis hidrologi, pemodelan hidrolika, dan kajian lingkungan (AMDAL).

Related