Perhitungan Debit Banjir Rencana

1

Latar Belakang โ€” Mengapa Perlu Debit Banjir Rencana?

Dari Angka Hujan ke Angka Desain

Artikel sebelumnya menghasilkan curah hujan rencana R_T (mm) dan kurva IDF untuk berbagai kala ulang. Tapi para engineer tidak mendesain jembatan dengan satuan "milimeter hujan" โ€” mereka mendesain dengan satuan meter kubik per detik (mยณ/s).

Pertanyaannya: "Kalau hujan 152 mm turun dalam satu hari di DAS seluas 50 kmยฒ, berapa debit puncak yang akan terjadi di outlet sungai?" โ€” Inilah yang dijawab oleh perhitungan debit banjir rencana.

Input โ€” dari Artikel Sebelumnya

Curah Hujan Rencana R_T:
T=2: 96.4 mm  |  T=5: 118.7 mm
T=10: 133.4 mm  |  T=25: 151.9 mm
T=50: 165.6 mm  |  T=100: 179.2 mm

Intensitas IDF dari rumus Mononobe untuk berbagai durasi.

Output โ€” yang Dihasilkan di Artikel Ini

Debit Puncak Q_T (mยณ/s) untuk setiap kala ulang, menggunakan:

๐Ÿ“Œ Metode Rasional โ†’ Q puncak saja
๐Ÿ“Œ HSS Nakayasu โ†’ hidrograf penuh Q(t)

Output ini menjadi input langsung untuk HEC-RAS, desain bendung, dan drainase.

๐Ÿ’ก Analogi Bak Mandi

Bayangkan hujan adalah air yang dituang ke bak mandi besar (DAS). Seberapa cepat air mengalir keluar dari saluran pembuangan (outlet sungai) tergantung pada: seberapa besar bak (luas DAS), seberapa curam kemiringannya (slope), dan seberapa banyak air yang meresap ke tanah vs mengalir di permukaan. Debit banjir rencana menghitung laju aliran di saluran pembuangan itu โ€” bukan berapa air yang dituang.

2

Alur: Dari Curah Hujan ke Debit Banjir

Tidak semua hujan yang jatuh menjadi debit di sungai. Ada yang meresap ke tanah (infiltrasi), ada yang menguap (evapotranspirasi), dan sisanya baru menjadi aliran permukaan (runoff). Proses ini dipengaruhi karakteristik DAS dan kondisi lahan.

๐ŸŒง๏ธ
CH Rencana
R_T (mm)
โ†’
๐ŸŒฟ
Hujan Efektif
R_eff = R_T ร— (1-abstraksi)
โ†’
๐Ÿ”๏ธ
Karakteristik DAS
A, L, S, landuse
โ†’
๐Ÿ“ˆ
Model Transformasi
Rasional / Nakayasu
โ†’
๐Ÿ’ง
Debit Banjir
Q_T (mยณ/s)
โ„น๏ธProses transformasi hujan menjadi debit disebut rainfall-runoff transformation. Dua faktor utama yang menentukan hasilnya: (1) berapa banyak hujan yang jadi runoff (hujan efektif), dan (2) seberapa cepat runoff itu mencapai outlet (karakteristik DAS).
3

Data Daerah Aliran Sungai (DAS)

Karakteristik DAS yang Diperlukan

Untuk menghitung debit banjir, kita perlu mengkarakterisasi DAS terlebih dahulu. Data ini bisa didapat dari analisis DEM (SRTM/DEMNAS) di QGIS atau Global Mapper.

Sumber Data DAS

Peta topografi / DEM: DEMNAS (8m, BIG), SRTM 30m โ€” untuk delineasi DAS, panjang sungai, dan kemiringan.

Peta tata guna lahan: RTRW, citra satelit Sentinel/Landsat โ€” untuk koefisien limpasan (C).

Peta jenis tanah: untuk CN SCS atau parameter infiltrasi.

Tools yang Digunakan

QGIS: Delineasi DAS otomatis dari DEM menggunakan plugin SAGA atau GRASS. Hitung luas, panjang sungai, slope rerata.

Global Mapper: Analisis watershed, profil memanjang sungai, ekstrak parameter morfometri DAS dengan mudah.

Waktu Konsentrasi (t_c)

Definisi

Waktu konsentrasi (t_c) adalah waktu yang dibutuhkan tetesan air dari titik terjauh dalam DAS untuk mencapai outlet (titik pengukuran). Ini adalah parameter kunci โ€” intensitas hujan yang dipakai dalam metode rasional diambil pada durasi = t_c.

โ‘  Metode Kirpich (1940)

Paling umum untuk DAS kecil. Menggunakan panjang saluran dan beda tinggi.

Rumus Kirpich t_c = 0.0195 ยท L^0.77 ยท S^(โˆ’0.385) t_c dalam menit | L = panjang saluran terpanjang (meter) | S = kemiringan rata-rata (m/m) Contoh: L=5000 m, S=0.010 โ†’ t_c = 0.0195 ร— 705 ร— 5.89 = 81 mnt โ‰ˆ 1.35 jam
โ‘ก Metode Bransby-Williams

Mempertimbangkan luas DAS. Cocok untuk DAS yang lebih besar dan tidak seragam.

Rumus Bransby-Williams t_c = (L / (58 ยท A^0.1 ยท S_e^0.2)) t_c dalam jam | L = panjang sungai (km) | A = luas DAS (kmยฒ) | S_e = kemiringan ekivalen (m/km) Contoh: L=10 km, A=50 kmยฒ, S_e=5 m/km โ†’ t_c โ‰ˆ 2.1 jam
โš ๏ธHasil t_c dari berbagai metode bisa berbeda signifikan. Dalam praktik, gunakan dua metode lalu ambil rata-rata, atau pilih metode yang sesuai dengan kondisi DAS. Untuk DAS perkotaan (urban), t_c cenderung lebih pendek karena permukaan kedap air mempercepat aliran.
4

Koefisien Limpasan (C)

Koefisien limpasan (C) menunjukkan proporsi hujan yang menjadi aliran permukaan. Nilai C antara 0 (semua meresap) hingga 1 (semua jadi runoff). Nilainya ditentukan oleh tata guna lahan, jenis tanah, dan kemiringan.

Tipe Lahan / KondisiC MinimumC MaksimumC TipikalKeterangan
Hutan lebat / konservasi0.100.250.15Infiltrasi sangat tinggi
Perkebunan / ladang0.250.450.35Tergantung kerapatan tanaman
Sawah / lahan pertanian0.450.650.55Bervariasi per musim
Permukiman jarang0.500.700.60Halaman rumput + jalan
Permukiman padat / urban0.650.800.72Banyak permukaan kedap
Jalan aspal / beton0.800.950.90Hampir semua jadi runoff
Atap bangunan0.850.950.90Tidak ada infiltrasi
โ„น๏ธUntuk DAS dengan berbagai tipe lahan (mixed land use), hitung C gabungan berdasarkan proporsi luas: C_gabungan = ฮฃ(Cแตข ร— Aแตข) / A_total. Dalam contoh artikel ini, DAS campuran hutan + sawah + permukiman menghasilkan C_gabungan = 0.65.
โ†“

Panduan Pemilihan Metode

Sebelum memilih metode perhitungan, tentukan dulu skala DAS yang akan dianalisis. Matriks berikut adalah panduan umum yang diadaptasi dari Ponce (1989) โ€” salah satu referensi klasik hidrologi teknik.

๐Ÿ“Š Hubungan Skala DAS dengan Metode Perhitungan Banjir Diadaptasi dari Ponce (1989) โ€” Engineering Hydrology
Skala DAS (Catchment Scale)
Metode
Kecil
Small (< 50 kmยฒ)
Sedang
Midsize (50โ€“250 kmยฒ)
Besar
Large (> 250 kmยฒ)
๐Ÿ“ Metode
Rasional
Q = 0.278ยทCยทIยทA
โœ…
Biasanya
Metode utama
โŒ
Tidak Berlaku
Kurang akurat
โŒ
Tidak Berlaku
Sangat tidak akurat
๐Ÿ“ˆ Hidrograf
Satuan (HSS)
Nakayasu, GAMA I
โŒ
Tidak Berlaku
Terlalu detail
โœ…
Biasanya
Metode utama
โšก
Kadang
Perlu pertimbangan
๐ŸŒŠ Flood
Routing
HEC-HMS, HEC-RAS
โšก
Kadang
Bila diperlukan
โšก
Kadang
Perlu pertimbangan
โœ…
Biasanya
Metode utama
Keterangan:
Biasanya digunakan (Usually)
Tidak berlaku (Not applicable)
Kadang digunakan (Sometimes)
Sumber: Ponce, V.M. (1989). Engineering Hydrology: Principles and Practices. Prentice Hall. Fig. 1-9. Akses: ponce.sdsu.edu
๐Ÿ™๏ธ DAS Kecil โ€” < 50 kmยฒ

Respons cepat terhadap hujan. Satu hujan โ†’ satu puncak banjir yang jelas. Metode Rasional cukup untuk mendapatkan debit puncak. Contoh: sub-DAS perkotaan, saluran drainase.

๐Ÿ”๏ธ DAS Sedang โ€” 50โ€“250 kmยฒ

Skala DAS dalam artikel ini (50 kmยฒ). HSS Nakayasu cocok di rentang ini. Hidrograf satuan dapat merepresentasikan respons DAS dengan baik dan parameter masih dapat dikalibrasi.

๐ŸŒ DAS Besar โ€” > 250 kmยฒ

Perlu flood routing karena banjir merambat dari hulu ke hilir dalam waktu yang signifikan. HEC-HMS (routing) dan HEC-RAS diperlukan. HSS masih bisa sebagai sub-DAS.

โ„น๏ธArtikel ini fokus pada DAS sedang (50 kmยฒ) menggunakan dua metode: Metode Rasional (sebagai pembanding sederhana) dan HSS Nakayasu (metode utama). Untuk DAS yang lebih besar, lihat artikel HEC-HMS dan HEC-RAS di seri selanjutnya.
5

Metode Rasional

๐Ÿ“ Cocok untuk DAS < 50 kmยฒ

Metode rasional adalah metode paling sederhana dan paling banyak digunakan untuk DAS kecil. Output-nya hanya debit puncak โ€” tidak menghasilkan bentuk hidrograf penuh.

Rumus & Parameter

Rumus Rasional โ€” Debit Puncak Banjir Q = 0.278 ร— C ร— I ร— A Q = debit puncak (mยณ/s) | C = koefisien limpasan (-) | I = intensitas hujan (mm/jam) | A = luas DAS (kmยฒ) Angka 0.278 = faktor konversi satuan: 1 mm/jam ร— 1 kmยฒ = 0.278 mยณ/s I diambil pada durasi t = t_c dari kurva IDF, pada kala ulang T yang diinginkan
Hitung t_c (waktu konsentrasi)
Dengan Kirpich: t_c = 0.0195 ร— 5000^0.77 ร— 0.010^(โˆ’0.385) = 81 menit = 1.35 jam
Ambil intensitas I dari kurva IDF pada t = t_c
I(t_c = 1.35 jam, T = 25 tahun) = (Rโ‚‚โ‚„/24) ร— (24/1.35)^(2/3) = (151.9/24) ร— 17.78^(2/3) = 6.33 ร— 6.85 = 43.3 mm/jam
Tentukan C (koefisien limpasan)
DAS campuran: hutan (40%) + sawah (35%) + permukiman (25%) โ†’ C = 0.15ร—0.40 + 0.55ร—0.35 + 0.65ร—0.25 = 0.06 + 0.19 + 0.16 = 0.41 โ‰ˆ 0.65 (kondisi jenuh saat banjir)
4
Hitung Q puncak
Q_25 = 0.278 ร— 0.65 ร— 43.3 ร— 50 = 391 mยณ/s

๐ŸŽฎ Kalkulator Interaktif โ€” Metode Rasional

โšก Hitung Debit Puncak โ€” Metode Rasional Geser slider untuk melihat perubahan hasil secara langsung
C = 0.65
A = 50 kmยฒ
Cocok untuk DAS โ‰ค 50 kmยฒ
t_c = 1.35 jam
Intensitas I(t_c, T): โ€” mm/jam  |  Rumus: Q = 0.278 ร— C ร— I ร— A
DEBIT PUNCAK RENCANA
391 mยณ/s
Setara dengan
โ€”
Debit Puncak Metode Rasional per Kala Ulang
Berdasarkan: C = 0.65, A = 50 kmยฒ, t_c = 1.35 jam, Distribusi Gumbel
6

Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu

๐Ÿ“Š Menghasilkan Hidrograf Penuh Q(t) โ€” Cocok untuk DAS 50โ€“250 kmยฒ

Metode Rasional hanya menghasilkan satu angka: debit puncak. Untuk desain yang lebih detail โ€” seperti penelusuran banjir (flood routing) di HEC-RAS atau desain kolam retensi โ€” kita butuh bentuk hidrograf lengkap: bagaimana debit naik, puncak, lalu turun kembali ke kondisi normal. HSS Nakayasu memberikan ini.

๐Ÿ’ก Analogi Hidrograf

Hidrograf adalah seperti grafik jumlah penumpang di stasiun selama hari hujan. Paginya sepi, siang naik drastis saat hujan, mencapai puncak saat semua orang keluar serentak, lalu perlahan turun sore hari. Bentuk kurva naik-puncak-turun inilah yang disebut hidrograf โ€” dan setiap DAS punya "bentuk khas" yang berbeda.

Parameter HSS Nakayasu

Debit Puncak Hidrograf Satuan โ€” Nakayasu Q_p = A / (3.6 ร— (0.3ยทt_p + T_{0.3})) Q_p = debit puncak hidrograf satuan (mยณ/s per mm hujan efektif) A = luas DAS (kmยฒ) | t_p = waktu ke puncak (jam) | Tโ‚€.โ‚ƒ = waktu resesi ke 0.3ยทQ_p (jam)
Waktu Kelambatan โ€” t_g L < 15 km โ†’ t_g = 0.21 ยท L^0.7 L โ‰ฅ 15 km โ†’ t_g = 0.40 + 0.058 ยท L L = panjang sungai utama (km) | t_g dalam jam Contoh: L = 10 km โ†’ t_g = 0.21 ร— 10^0.7 = 0.21 ร— 5.01 = 1.05 jam
Waktu ke Puncak & Resesi t_r = 0.5 ยท t_g sampai 1.0 ยท t_g t_p = t_g + 0.8 ยท t_r T_{0.3} = ฮฑ ยท t_g t_r = saturation time | ฮฑ = parameter resesi DAS (1โ€“3) ฮฑ kecil = naik-turun cepat (DAS terjal) | ฮฑ besar = resesi lambat (DAS datar)
ParameterSimbolNilai (contoh)SatuanCara Mendapatkan
Luas DASA50kmยฒDelineasi dari DEM di QGIS/Global Mapper
Panjang sungai utamaL10kmUkur dari DEM atau peta topografi
Parameter resesi DASฮฑ2.0-Kalibrasi data debit terukur (AWLR) atau dari referensi
Waktu kelambatant_g1.05jamDihitung: 0.21 ร— 10^0.7 = 1.05 jam
Saturation timet_r1.05jamDiambil = t_g (simplifikasi)
Waktu ke puncakt_p1.89jamt_g + 0.8ร—t_r = 1.05 + 0.84 = 1.89 jam
Waktu resesiTโ‚€.โ‚ƒ2.10jamฮฑ ร— t_g = 2.0 ร— 1.05 = 2.10 jam
Debit puncak unitQ_p5.19mยณ/s/mm50 / (3.6 ร— (0.3ร—1.89 + 2.10)) = 5.19
Bentuk Hidrograf Satuan โ€” Persamaan per Segmen
โ‘  Naik (0 โ‰ค t โ‰ค t_p) Q(t) = Q_p ยท (t / t_p)^2.4
โ‘ก Turun awal (t_p โ‰ค t โ‰ค t_p + Tโ‚€.โ‚ƒ) Q(t) = Q_p ยท 0.3^((tโˆ’t_p)/Tโ‚€.โ‚ƒ)
โ‘ข Turun tengah (s.d. t_p + 2.5ยทTโ‚€.โ‚ƒ) Q(t) = Q_p ยท 0.3^((tโˆ’t_p+0.5ยทTโ‚€.โ‚ƒ)/(1.5ยทTโ‚€.โ‚ƒ))
โ‘ฃ Ekor resesi (t > t_p + 2.5ยทTโ‚€.โ‚ƒ) Q(t) = Q_p ยท 0.3^((tโˆ’t_p+1.5ยทTโ‚€.โ‚ƒ)/(2ยทTโ‚€.โ‚ƒ))

๐ŸŽฎ Hidrograf Interaktif โ€” Pilih Kala Ulang

Hidrograf Banjir Rencana โ€” HSS Nakayasu
A = 50 kmยฒ | L = 10 km | ฮฑ = 2.0 | C = 0.65 | Distribusi Gumbel. Klik kala ulang untuk tampilkan/sembunyikan.
Parameter Hidrograf Satuan
t_p = 1.89 jam Tโ‚€.โ‚ƒ = 2.10 jam Q_p unit = 5.19 mยณ/s/mm t_dasar โ‰ˆ 16.4 jam
7

Hujan Efektif (R_eff)

Tidak semua curah hujan rencana langsung menjadi aliran permukaan. Ada kehilangan akibat intersepsi, infiltrasi, dan tampungan permukaan. Yang tersisa disebut hujan efektif (R_eff) โ€” inilah yang benar-benar berkontribusi pada banjir.

โ‘  Metode Phi-Index (ฯ†)

Kehilangan dianggap konstan sebesar ฯ† (phi). Semua intensitas di atas ฯ† menjadi hujan efektif. Sederhana, tapi memerlukan data debit terukur untuk kalibrasi ฯ†.

R_eff = R_T โˆ’ Abstraksi Abstraksi โ‰ˆ 20-40% dari R_T (tanpa kalibrasi)
โ‘ก Metode SCS-CN (Curve Number)

Menggunakan angka CN yang merepresentasikan kondisi tanah dan tata guna lahan. Lebih ilmiah dan bisa digunakan tanpa data debit terukur.

R_eff = (R โˆ’ 0.2ยทS)ยฒ / (R + 0.8ยทS) S = 25400/CN โˆ’ 254  |  CN = 60โ€“90 tipikal
Pendekatan Sederhana (Tanpa Kalibrasi)

Untuk analisis awal tanpa data debit terukur, hujan efektif dapat dihitung menggunakan koefisien limpasan: R_eff = C ร— R_T. Ini setara dengan asumsi bahwa proporsi hujan yang menjadi runoff sama dengan koefisien C dalam metode rasional.

8

Rekapitulasi Debit Banjir Rencana

Dengan mengalikan hidrograf satuan Nakayasu (Q_p unit = 5.19 mยณ/s per mm) dengan hujan efektif masing-masing kala ulang, diperoleh debit puncak banjir rencana.

๐ŸŽฏTabel debit puncak di atas adalah output final yang siap digunakan sebagai input untuk: (1) HEC-RAS untuk profil muka air banjir, (2) desain dimensi bendung/tanggul, (3) penentuan tinggi jagaan (freeboard), dan (4) analisis kapasitas sungai.
9

Perbandingan Antar Metode

Perbandingan Debit Puncak: Metode Rasional vs HSS Nakayasu
A = 50 kmยฒ | C = 0.65 | Distribusi Gumbel. Nilai dalam mยณ/s.
Metode Rasional
HSS Nakayasu
Kapan Menggunakan Metode Mana?

๐Ÿ“ Metode Rasional

โœ… DAS kecil (< 50 kmยฒ)
โœ… Desain drainase perkotaan
โœ… Gorong-gorong dan saluran kecil
โœ… Saat data terbatas
โŒ Tidak menghasilkan hidrograf
โŒ Kurang akurat untuk DAS besar

๐Ÿ“Š HSS Nakayasu

โœ… DAS menengahโ€“besar (10โ€“1000 kmยฒ)
โœ… Perlu bentuk hidrograf penuh
โœ… Input untuk HEC-HMS/RAS
โœ… Desain bendung dan waduk
โŒ Perlu kalibrasi parameter ฮฑ
โŒ Lebih kompleks perhitungannya

โš ๏ธHasil debit dari metode berbeda bisa berbeda 10โ€“30%. Dalam proyek nyata, selalu lakukan analisis sensitivitas dengan minimal dua metode, dan gunakan nilai yang lebih konservatif (lebih besar) untuk keamanan. Konfirmasi juga dengan data debit terukur (AWLR) jika tersedia.
10

Kode R โ€” Implementasi Lengkap

R ยท Setup & Parameter DAS
options(OutDec = ".")
library(dplyr); library(tidyr); library(ggplot2)

# โ”€โ”€ Parameter DAS โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
A     <- 50      # luas DAS (kmยฒ)
L     <- 10      # panjang sungai utama (km)
alpha <- 2.0    # parameter resesi Nakayasu
C_run <- 0.65   # koefisien limpasan DAS
L_kir <- 5000   # panjang saluran untuk Kirpich (meter)
S_kir <- 0.010  # kemiringan untuk Kirpich (m/m)

# โ”€โ”€ Curah hujan rencana dari analisa frekuensi (Gumbel) โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
T_values <- c(2, 5, 10, 25, 50, 100)
R_T      <- c(96.4, 118.7, 133.4, 151.9, 165.6, 179.2)  # mm

# โ”€โ”€ Waktu konsentrasi Kirpich โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
tc_min <- 0.0195 * L_kir^0.77 * S_kir^(-0.385)
tc_jam <- tc_min / 60
cat("tc Kirpich =", round(tc_jam, 2), "jam\n")
R ยท Metode Rasional
# โ”€โ”€ Intensitas Mononobe pada t = tc โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
mononobe <- function(R24, t_jam) (R24 / 24) * (24 / t_jam)^(2/3)

# โ”€โ”€ Debit puncak metode rasional โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
I_tc  <- sapply(R_T, mononobe, t_jam = tc_jam)  # intensitas (mm/jam)
Q_ras <- 0.278 * C_run * I_tc * A              # debit (mยณ/s)

hasil_rasional <- data.frame(
  T      = T_values,
  R_T_mm = R_T,
  I_mmjam = round(I_tc, 1),
  Q_m3s   = round(Q_ras, 1)
)
print(hasil_rasional)
R ยท HSS Nakayasu โ€” Parameter & Hidrograf Satuan
# โ”€โ”€ Parameter Nakayasu โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
tg  <- if(L < 15) 0.21 * L^0.7 else 0.40 + 0.058 * L
tr  <- tg                     # simplifikasi: tr = tg
tp  <- tg + 0.8 * tr
T03 <- alpha * tg
Qp  <- A / (3.6 * (0.3 * tp + T03))  # mยณ/s per mm

cat("tg =", round(tg, 2), "jam | tp =", round(tp,2),
    "jam | T03 =", round(T03,2), "jam | Qp_unit =", round(Qp,3), "m3/s/mm\n")

# โ”€โ”€ Hidrograf satuan (dt = 0.1 jam) โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
nakayasu_unit <- function(t) {
  if      (t <= tp)             Qp * (t / tp)^2.4
  else if (t <= tp + T03)       Qp * 0.3^((t - tp) / T03)
  else if (t <= tp + 2.5*T03)   Qp * 0.3^((t - tp + 0.5*T03) / (1.5*T03))
  else                           Qp * 0.3^((t - tp + 1.5*T03) / (2  *T03))
}

t_seq      <- seq(0, 24, by = 0.1)
unit_hydro <- sapply(t_seq, nakayasu_unit)
R ยท Debit Banjir Rencana & Plot Hidrograf
# โ”€โ”€ Hujan efektif & hidrograf banjir per kala ulang โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
R_eff   <- C_run * R_T               # hujan efektif (mm)
Qpeak_N <- Qp * R_eff               # debit puncak Nakayasu (mยณ/s)

# โ”€โ”€ Buat data frame hidrograf semua kala ulang โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
df_hydro <- lapply(seq_along(T_values), function(i) {
  data.frame(
    t    = t_seq,
    Q    = unit_hydro * R_eff[i],
    T_yr = paste0("T", T_values[i])
  )
}) |> bind_rows()

# โ”€โ”€ Plot hidrograf semua kala ulang โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€
cols <- c(T2="#64748b", T5="#2563eb", T10="#0284c7",
         T25="#d97706", T50="#dc2626", T100="#7c3aed")

ggplot(df_hydro, aes(x = t, y = Q, color = T_yr)) +
  geom_line(linewidth = 0.9) +
  scale_color_manual(values = cols) +
  geom_vline(xintercept = tp, linetype = "dashed", color = "gray50", linewidth = 0.5) +
  annotate("text", x = tp + 0.2, y = max(df_hydro$Q) * 0.95,
           label = paste0("tp = ", round(tp, 2), " jam"), size = 3, hjust = 0) +
  labs(
    title    = "Hidrograf Banjir Rencana โ€” HSS Nakayasu",
    subtitle = paste0("A=", A, " kmยฒ | L=", L, " km | ฮฑ=", alpha, " | C=", C_run),
    x = "Waktu (jam)", y = "Debit Q (mยณ/s)", color = "Kala Ulang",
    caption  = "Metode: HSS Nakayasu | SNI 2415:2016"
  ) +
  theme_minimal(base_size = 11) +
  theme(plot.title = element_text(face = "bold"))

ggsave("hidrograf_banjir_rencana.png", width = 36, height = 22, units = "cm", dpi = 300)
11

Kelanjutan โ€” Debit Banjir Rencana Dipakai untuk Apa?

โ‘  Pemodelan HEC-RAS

Debit Q_T (mยณ/s) menjadi input boundary condition di HEC-RAS untuk menghitung profil muka air banjir di sepanjang sungai.

โ†’ Profil WSE (Water Surface Elevation)
โ†’ Kecepatan aliran per penampang
โ†’ Peta genangan banjir (GIS)

โ‘ก Desain Bendung & Tanggul

Q rencana menentukan dimensi pelimpah (spillway), tinggi tanggul, dan tinggi jagaan (freeboard) yang diperlukan.

โ†’ Q_50 atau Q_100 untuk tanggul
โ†’ Q_100 atau Q_PMF untuk bendungan
โ†’ Kapasitas kolam olak

โ‘ข Analisis Sempadan Sungai

Profil muka air dari HEC-RAS digunakan untuk menentukan garis sempadan sungai sesuai Permen PUPR No. 28/2015.

โ†’ Batas banjir Q_25 atau Q_50
โ†’ Sempadan berdasarkan lebar sungai
โ†’ Rekomendasi tata ruang

โ‘ฃ Drainase Perkotaan (SWMM)

Untuk DAS kecil perkotaan, hidrograf banjir menjadi input SWMM untuk merancang kapasitas saluran dan kolam retensi.

โ†’ Dimensi saluran drainase
โ†’ Volume kolam detensi/retensi
โ†’ Pompa dan pintu air

โ‘ค Analisis AMDAL Hidrologi

Perbandingan Q sebelum dan sesudah proyek pembangunan untuk prakiraan dampak peningkatan limpasan permukaan.

โ†’ ฮ”Q akibat perubahan tutupan lahan
โ†’ Prakiraan peningkatan debit puncak
โ†’ Rekomendasi mitigasi banjir

โ‘ฅ Analisis Risiko Banjir

Kombinasi Q rencana berbagai kala ulang dengan peta topografi untuk peta hazard banjir dan analisis kerentanan wilayah.

โ†’ Peta genangan multi-skenario
โ†’ Matriks risiko banjir
โ†’ Prioritas pengendalian banjir

๐Ÿ”—Rantai lengkap analisis hidrologi: Data Hujan โ†’ Analisa Frekuensi โ†’ Curah Hujan Rencana โ†’ Debit Banjir Rencana โ†’ HEC-RAS โ†’ Profil Muka Air โ†’ Desain Infrastruktur. Setiap langkah membangun di atas hasil langkah sebelumnya โ€” kesalahan di langkah awal akan menjalar ke semua output hilir.

Semua rumus mengikuti SNI 2415:2016. Referensi: Sri Harto (1993), Triatmodjo (2008), Soemarto (1995), Nakayasu (1950), Kirpich (1940). Kode R menggunakan paket: dplyr, tidyr, ggplot2.

Related