Modul 5 — Pemodelan 2D dengan HEC-RAS
- ✓Memahami kapan pemodelan 2D lebih tepat dibanding 1D
- ✓Mengenal konsep mesh, computational cells, dan dual grid pada HEC-RAS 2D
- ✓Mampu membuat dan memperhalus mesh 2D Flow Area di HEC-RAS
- ✓Memahami perbedaan Shallow Water Equations (SWE) vs Diffusion Wave Equations (DWE)
- ✓Mampu menetapkan kondisi batas dan menjalankan simulasi 2D
- ✓Mampu membangun model hybrid 1D-2D untuk sistem sungai + dataran banjir
- ✓Menghasilkan peta genangan (depth, velocity, WSE) dari RAS Mapper dan mengekspornya ke QGIS
Kapan Pakai 2D? Kapan Cukup 1D?
Pertanyaan pertama sebelum memulai model 2D adalah: apakah memang perlu? Pemodelan 2D membutuhkan data, waktu setup, dan waktu komputasi yang jauh lebih besar. Pilih 2D hanya jika kondisi berikut terpenuhi.
- Aliran terkanalisis 1 arah
- Setup dan komputasi cepat
- Banyak skenario dalam satu run
- Cross section sebagai geometri
- Output: hidrograf di tiap XS
- Aliran menyebar ke x dan y
- Distribusi kecepatan 2D
- Peta genangan detail
- Mesh sebagai geometri
- Output: grid depth, velocity, WSE
Konsep Dasar: Mesh, Sel, dan Dual Grid
Di HEC-RAS 2D, domain komputasi dibagi menjadi ratusan hingga ribuan sel (cells) yang membentuk mesh. Setiap sel mewakili sebidang wilayah di atas terrain DEM. Pahami tiga komponen utama ini:
SWE vs DWE — Pilih Persamaan yang Tepat
HEC-RAS 2D menyediakan dua pilihan persamaan hidrolika. Pilihan ini sangat mempengaruhi akurasi, kestabilan, dan kecepatan komputasi.
Full Shallow Water Equations — menyelesaikan persamaan Saint-Venant 2D secara penuh, termasuk term inersia (percepatan aliran).
Gunakan SWE untuk: dam break, aliran sangat cepat (Fr > 0.5), analisis di mana efek inersia signifikan, atau studi yang memerlukan presisi tinggi terhadap front gelombang banjir.
SWE memerlukan time step lebih kecil (Courant condition lebih ketat) dan komputasi lebih lambat. Bisa 3–5× lebih lama dari DWE untuk mesh yang sama.
Diffusion Wave Equations — aproksimasi SWE dengan mengabaikan term inersia lokal dan konvektif. Lebih sederhana dan stabil.
Gunakan DWE untuk: banjir dataran banjir/floodplain yang luas, aliran lambat (Fr < 0.5), banjir perkotaan gradual, analisis ketersediaan air. Ini adalah pilihan default yang direkomendasikan untuk sebagian besar proyek hidrologi Indonesia.
Mulai selalu dengan DWE. Beralih ke SWE hanya jika Anda mendapat hasil yang mencurigakan di daerah dengan aliran cepat, atau jika proyek secara eksplisit memerlukan full momentum (dam break, tidal flow).
Langkah-langkah Setup 2D Flow Area
Berikut alur kerja lengkap dari membuka HEC-RAS hingga mesh siap dijalankan. Pastikan Anda sudah memiliki terrain DEM yang siap (dibahas di Modul 2).
Di Main Window: Edit → Geometric Data. Di toolbar kiri, klik ikon "2D Flow Area" (ikon persegi dengan titik-titik). Gambar polygon yang mencakup seluruh area yang akan dimodelkan 2D — termasuk seluruh dataran banjir yang mungkin tergenang, bukan hanya area sungai.
Polygon 2D Flow Area harus tertutup sempurna. Klik dua kali untuk mengakhiri penggambaran. Polygon yang tidak tertutup akan menyebabkan error saat preprocessing mesh.
Klik kanan pada polygon 2D Flow Area → "Generate Computation Points in Region". Tentukan Default Cell Size (ukuran sel default dalam meter).
Ukuran sel tidak boleh lebih kecil dari resolusi DEM — hasilnya tidak akan lebih akurat, hanya lebih lambat.
Breaklines memastikan mesh mengikuti penghalang aliran nyata di lapangan. Ini sangat kritis untuk akurasi model:
- Tanggul (levee): sel mesh harus mengikuti puncak tanggul agar tidak ada aliran yang "bocor" melintasi tanggul
- Jalan raya / rel kereta: berfungsi sebagai hambatan aliran di perkotaan
- Tepi sungai (bank): memisahkan zona dalam saluran dan dataran banjir
Cara menambahkan: di Geometric Data Editor → klik ikon "Breaklines" → digitasi garis di atas polygon 2D Flow Area → klik kanan pada Breakline → "Enforce Breaklines on Mesh" → Regenerate mesh.
Untuk memperhalus mesh di area kritis tanpa memperkecil semua sel: Edit → 2D Flow Area → Add Refinement Region. Gambar polygon di area yang perlu sel lebih kecil (sekitar saluran utama, jembatan, area kota padat).
Gunakan refinement secara strategis. Sel 50% lebih kecil di seluruh domain = jumlah sel 4× lebih banyak = waktu komputasi 4× lebih lama. Lebih baik: refinement hanya di 10–20% area yang paling kritis.
Di RAS Mapper: klik kanan pada "Terrains" → "Add New Terrain" → pilih file DEM (GeoTIFF). Kemudian kembali ke Geometric Data Editor: klik kanan pada 2D Flow Area → "Set Terrain". HEC-RAS akan menghitung hydraulic property tables untuk setiap sel.
Setiap kali DEM diubah atau mesh dimodifikasi, klik kanan → "Compute Cell and Face Hydraulic Properties" untuk meregenerasi tabel. Melewati langkah ini menyebabkan hasil simulasi yang salah.
Ada dua cara menetapkan Manning's n pada area 2D:
- Nilai konstan per-region: klik kanan pada 2D Flow Area → "Set Manning's n" → input nilai tunggal untuk seluruh area. Sederhana tapi tidak akurat untuk variasi penggunaan lahan.
- Land Cover Raster (direkomendasikan): buat raster penggunaan lahan dengan nilai n di tiap piksel → load di RAS Mapper sebagai "Land Cover" layer → assign ke geometri. Cara ini menghasilkan distribusi n yang realistis secara spasial.
Kondisi Batas untuk Model 2D
Kondisi batas (boundary conditions) pada model 2D didefinisikan di tepi polygon 2D Flow Area, bukan di cross section seperti model 1D. Di Unsteady Flow Data Editor: pilih tab "Boundary Conditions".
| Tipe | Posisi | Data yang Dibutuhkan | Kapan Digunakan |
|---|---|---|---|
| Flow Hydrograph | Tepi hulu | Hidrograf Q(t) dari HEC-HMS | Input debit masuk dari DAS |
| Stage Hydrograph | Hulu atau hilir | Time-series elevasi muka air H(t) | Jika ada data pos duga air (AWLR) |
| Normal Depth | Tepi hilir | Slope energi (S) | Tidak ada data hilir; gunakan S₀ dasar sungai |
| Rating Curve | Tepi hilir | Kurva Q-H observasi | Ada data stasiun pengukuran di hilir |
| Precipitation | Seluruh domain | Data hujan spasial (grid atau titik) | Banjir urban — hujan langsung jatuh ke 2D area |
Di Geometric Data Editor: klik ikon "SA/2D Connection" di toolbar → pilih "Add SA/2D Area Boundary" → klik pada tepi polygon yang ingin dijadikan boundary → beri nama. Kemudian di Unsteady Flow Data Editor, boundary tersebut akan muncul untuk diisi tipe dan data-nya.
Pengaturan Simulasi 2D: Time Step & Courant
Kestabilan simulasi 2D sangat bergantung pada pemilihan computational time step (Δt) yang tepat. Terlalu besar → tidak stabil. Terlalu kecil → lama tanpa perlu.
Syarat Courant
Syarat stabilitas numerik untuk 2D (Courant-Friedrichs-Lewy / CFL condition):
Adaptive Time Stepping (Direkomendasikan)
HEC-RAS 2D memiliki fitur Adaptive Time Stepping yang secara otomatis menyesuaikan Δt berdasarkan kondisi aliran aktual — memperbesar Δt saat aliran tenang, memperkecil saat aliran berubah cepat. Aktifkan di:
Set: Max dt = 30 min, Min dt = 1 min, Target Courant = 0.8
Model Hybrid 1D–2D: Yang Terbaik dari Keduanya
Untuk sebagian besar proyek sungai di Indonesia, model hybrid 1D-2D adalah pendekatan paling optimal: saluran sungai dimodelkan 1D (efisien), dataran banjir dimodelkan 2D (akurat).
- Saluran utama (dalam tanggul)
- Aliran terkanalisis, 1 arah
- Data cross section dari survei
- Komputasi cepat, Manning's n kalibrasi
- Dataran banjir luar tanggul
- Aliran bebas ke semua arah
- Mesh dari DEM DEMNAS/LiDAR
- Distribusi spasial depth & velocity
Cara Menghubungkan 1D ke 2D: Lateral Structure
Koneksi antara reach 1D dan area 2D dibuat menggunakan Lateral Structure yang merepresentasikan tanggul atau embankment:
Di toolbar: ikon "Lateral Structures" → klik dan digitasi garis di atas puncak tanggul, sejajar dengan saluran 1D. Lateral structure ini bertindak sebagai weir — air meluap ke 2D area ketika muka air di saluran 1D melampaui puncak tanggul.
Double-click pada lateral structure → di editor, bagian "Connected to" → pilih reach 1D di satu sisi dan 2D Flow Area di sisi lain. Masukkan profil elevasi puncak tanggul.
Masukkan Weir Coefficient (biasanya 1.5–2.1 untuk tanggul tanah terbuka) dan Weir Width. Untuk analisis jebol tanggul (levee breach), aktifkan opsi "Breach" dengan menentukan dimensi dan mekanisme breach.
Model hybrid memungkinkan: simulasi penelusuran banjir yang akurat di sepanjang sungai (1D), distribusi genangan realistis di dataran banjir (2D), dan analisis skenario breach tanggul — semua dalam satu model terintegrasi dengan waktu komputasi yang terjangkau.
Visualisasi Output 2D di RAS Mapper
Setelah simulasi selesai, semua output 2D divisualisasikan melalui RAS Mapper (View → RAS Mapper). Ini adalah bagian yang paling menarik — di sinilah peta genangan terbentuk.
Menampilkan Layer Output
Di RAS Mapper: klik kanan pada nama plan → "Create All Inundation Maps". Tunggu proses selesai, lalu tambahkan layer:
| Layer Output | Satuan | Kegunaan |
|---|---|---|
| Depth (Kedalaman) | m | Peta kedalaman genangan — paling sering digunakan untuk peta bahaya banjir |
| Water Surface Elevation (WSE) | m MSL | Elevasi muka air absolut — untuk verifikasi dengan data pengamatan AWLR |
| Velocity | m/s | Besaran kecepatan aliran — untuk analisis erosi dan bahaya terhadap pejalan kaki/kendaraan |
| Velocity Vectors | m/s + arah | Arah dan kecepatan aliran — untuk memahami pola pergerakan air di dataran banjir |
| Arrival Time | jam | Waktu banjir tiba di tiap titik — kritis untuk early warning system dan evakuasi |
| Max Depth / Max Velocity | m / m/s | Nilai maksimum selama seluruh simulasi — untuk peta bahaya banjir rencana |
Animasi Perambatan Banjir
RAS Mapper dapat menghasilkan animasi penelusuran banjir yang sangat berguna untuk presentasi dan pelaporan:
→ Pilih layer (Depth / Velocity)
→ Atur Time Range dan Playback Speed
→ Export → Save as AVI / MP4
Export ke QGIS
Semua output RAS Mapper dapat diekspor sebagai GeoTIFF untuk kartografi profesional di QGIS:
Klik kanan pada layer output (misal "Depth — Max") → "Export Layer" → pilih format GeoTIFF → pilih time step yang ingin diekspor (atau "Maximum" untuk nilai maksimum seluruh simulasi) → simpan.
Buka GeoTIFF di QGIS → Layer Properties → Symbology → Singleband pseudocolor. Klasifikasi kedalaman yang umum digunakan:
| Kedalaman | Kelas Bahaya | Warna Umum |
|---|---|---|
| 0 – 0.5 m | Rendah | Kuning |
| 0.5 – 1.5 m | Sedang | Oranye |
| 1.5 – 3.0 m | Tinggi | Merah |
| > 3.0 m | Sangat Tinggi | Merah Tua |
Tambahkan layer: batas administrasi, jalan, permukiman, fasilitas vital (RS, sekolah, kantor pemerintahan). Gunakan QGIS Print Layout untuk menyusun peta lengkap dengan legenda, skala, arah utara, dan sumber data. Ekspor ke PDF atau PNG untuk laporan.
Troubleshooting Model 2D
Model 2D lebih rentan terhadap ketidakstabilan numerik dibanding model 1D. Berikut masalah-masalah yang paling sering dijumpai dan cara mengatasinya:
Tips Optimasi Kinerja Model 2D
- Pilih 2D jika: aliran menyebar ke segala arah, dataran banjir luas, dam break, atau banjir perkotaan kompleks
- Konsep kunci: computational cells, cell faces, dual grid, dan hydraulic property tables
- DWE (Diffusion Wave) cocok untuk 90% kasus banjir di Indonesia — lebih cepat dan stabil dari SWE
- Alur setup: gambar polygon → generate mesh → tambah breaklines → link terrain → assign Manning's n → set boundary conditions
- Breaklines pada tanggul dan jalan sangat kritis untuk akurasi — jangan diabaikan
- Courant number ≤ 1.0 untuk stabilitas; gunakan Adaptive Time Stepping untuk efisiensi
- Model Hybrid 1D-2D (channel = 1D, floodplain = 2D) adalah pendekatan optimal untuk sistem sungai Indonesia
- Output RAS Mapper: Depth, WSE, Velocity, Arrival Time — ekspor GeoTIFF → QGIS untuk kartografi final
Referensi: HEC-RAS 2D User's Manual v6.x (USACE HEC) · Brunner, G.W. (2021). HEC-RAS 2D Modeling Guide · Chow, V.T., Maidment, D.R., Mays, L.W. (1988). Applied Hydrology · SNI 2415:2016 — Tata cara perhitungan debit banjir rencana